Televisi memainkan peran yang sangat penting dalam membentuk opini publik di Indonesia. Dengan jangkauan yang luas dan kemampuannya untuk menjangkau berbagai lapisan masyarakat, televisi memiliki kekuatan untuk memengaruhi cara berpikir dan pandangan masyarakat terhadap berbagai isu.
Menurut pakar media Dr. Wibowo, “Peran televisi dalam membentuk opini publik di Indonesia sangat besar. Melalui program-program berita, talkshow, dan acara hiburan, televisi memiliki kemampuan untuk menyebarluaskan informasi dan mengarahkan pandangan masyarakat terhadap suatu isu.”
Namun, tidak semua informasi yang disajikan di televisi dapat dianggap sebagai kebenaran mutlak. Ada kalanya informasi yang disampaikan cenderung bias atau tidak objektif. Hal ini dapat berdampak negatif terhadap pembentukan opini publik yang seharusnya didasarkan pada fakta yang akurat.
Menurut survei yang dilakukan oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI), sebagian besar masyarakat Indonesia mengakui bahwa televisi memiliki pengaruh besar dalam membentuk opini publik. Namun, sebagian besar juga menyadari bahwa tidak semua informasi yang disajikan di televisi dapat dipercaya sepenuhnya.
Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk lebih kritis dalam menonton program-program televisi dan tidak langsung mempercayai segala informasi yang disajikan. Sebagai penonton, kita harus mampu menyaring informasi dan mempertimbangkan berbagai sudut pandang sebelum membentuk opini.
Dalam konteks ini, peran regulator seperti Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) juga sangat penting dalam mengawasi konten-konten yang disajikan di televisi. Menurut Ketua KPI, Agatha Lydia, “Kami terus melakukan pemantauan terhadap program-program televisi untuk memastikan bahwa informasi yang disampaikan sesuai dengan kode etik dan tidak merugikan masyarakat.”
Dengan demikian, televisi memang memiliki peran yang besar dalam membentuk opini publik di Indonesia. Namun, sebagai masyarakat yang cerdas, kita juga memiliki tanggung jawab untuk lebih kritis dalam menyikapi informasi yang disajikan di televisi. Dengan demikian, kita dapat menjadi pembentuk opini yang lebih cerdas dan terinformasi.
